5 Kuliner yang Wajib Dicoba Saat Berkunjung ke Okayama!

Sushi buatan sendiri lho! (photo by Wira N)
Tak terasa ternyata tahun ini dalam dua bulan saya tiga kali bolak-balik Jepang dengan tujuan yang berbeda. Kali ini, saya berangkat ke prefektur Okayama yang berada di Chogoku Region. Banyak destinasi yang saya kunjungi selama disana, apalagi bagi yang suka baca-baca caption di Instagram, pasti sudah hafal destinasi apa saja yang saya kunjungi kali ini. Saya pengen banget cerita tentang makanan-makanan yang saya coba selama di Okayama, karena banyak banget nih yang enak-enak kalau kamu mampir ke Okayama. Monggo dibaca!

Sebelum membaca lebih lanjut, saya sarankan bagi muslim traveler yang ingin berkunjung ke Okayama tapi khawatir akan masalah kehalalan makanan wajib mengetahui tentang LOGO PEACHMARK. Logo Peachmark ini bisa menjadi acuan kalau kita ingin mencari makanan atau penginapan yang punya set menu makanan yang halal ya gengs.

Peach Mark 1 menandakan bahwa restoran tersebut punya menu berbahasa Inggris dan akan ada tanda jika ada makanan yang mengandung pork atau turunannya.

Peach Mark 1

Peach Mark 2 ini tingkatannya nya lebih tinggi. Jauh lebih strict aturannya. Restoran/hotel harus punya sertifikasi Peach Mark 1 terlebih dahulu baru bisa mendapat Mark 2. Jika restoran punya logo ini, ia harus mempunyai menu vegetarian, dan menu yang tidak mengandung pork dan alkohol sama sekali. 
Biasanya, hotel atau penginapan yang memilik logo Peach Mark (tanya saja ke resepsionisnya) bakalan ada penunjuk arah kiblat bahkan tempat untuk solat seperti di hotel Granvia Okayama yang saya inapi kemaren. Nice!

Peach Mark 2

 
Udah nggak khawatir kan masalah kehalalan? Monggo dilanjut!

1. Menikmati Buah Persik, Buah Yang Bentuknya Aneh?

Bauh Persik, bukan Dewi Persik.

Sebagai penghasil buah-buahan segar, Okayama menyajikan pengalaman mencoba salah satu buah unggulan kota Okayama yaitu buah Peach atau buah Persik. Jujur aja ini adalah pertama kalinya saya mencoba si buah Persik ini. Kalau dilihat, buah peach ini bentuknya seperti apel tapi nggak sempurna karena bentuknya sebagian seperti bagian tubuh manusia untuk buang air besar. Warnanya merah agak kekuning-kuningan, tapi nggak merah mentereng seperti apel merah yang biasa kita temukan di pasar modern.

Di Kebun Oumi No Sato, salah satu penghasil buah persik, saya mencoba makan langsung buah persik yang sudah matang lalu mencoba buah persik yang sudah di olah menjadi es krim. Kebetulan karena cuaca lagi panas-panasnya (hampir 38 derajat!) paling cocok makan buah dan minum yang seger-seger, apalagi Mbak yang menyajikannya juga seger banget untuk dipandang. Harga per buahnya sekitar 400 yen, berarti sekitar 55 ribu rupiah, PER BUAH!

Buah Persik ini kulitnya berbulu halus, jadi wajib kamu kupas dulu sebelum dimakan. Menurut saya sih nggak bisa langsung digigit kayak apel ya, bulunya itu lho. Setelah itu tinggal langsung kunyah. Percayalah, gigitan pertama akan bikin jatuh cinta. Teksturnya yang empuk, lalu juicy banget, serta harum yang sangat menusuk dijamin deh bikin mau tambah terus. Apalagi, es krimnya yang endess banget paling cocok dinikamti saat musim panas. Es krim peach dengan topping buah peach asli ditemani mbak pemilik cafĂ© Peach.. Duh…. 



2. Shine Muscat, Anggur Termahal di Jepang


Saya berani tantang kamu, berapa mahal anggur yang pernah kamu makan? Saya pernah makan anggur Shine Muscat seharga 1,3 juta rupiah per kilo! Wadaw!

Di Jepang, memang buah-buahan apalagi anggur terkenal mahal. Untungnya, saya  waktu itu datang ke Ishihara Farm yang letaknya dipinggiran kota. Disini, dikembang biakkan berbagai jenis anggur mulai anggur biasa sampai anggur Shigyoku (200 yen/100gr) , Delaware (200yen/100gr), sampai Shine Muscat yang merupakan anggur kualitas tertinggi dengan harga 300 yen per 100 gram! Tapi serius anggur di Ishihara Farm emang worth to buy banget. Alasannya pertama anggurnya seadless alias gak ada bijinya, yang kedua manis banget gak ada asam-asamnya sama sekali, ketiga setiap anggur punya rasa dan tekstur yang berbeda, keempat kita bisa memilih dan memetik secara langsung dikebunnya, dan terakhir harganmya sangat murah dibandingkan harga pasaran!

Bayangin aja, Shine Muscat di Ishihara Farm yang hanya 3000 yen perkilonya (sekitar 490 ribu rupiah) sangat murah jika dibandingkan Shine Muscat di pasar atau di market yang bisa sampai 10.000 yen alias 1,3 juta rupiah perkilonya!


3. Makan Kobe Beef, Beef Termahal Sedunia?


ONE OF THE BEST BEEF EVER! Saya nggak mau bohong dan nggak mau hoax, daging sapi asal daerah Kobe ini emang daging sapi nomor satu di Jepang, mungkin juga di dunia karena udah terkenal sekali. Untuk mendapatkan kobe beef yang berkualitas dan punya label asli, banyak banget lho persyaratan yang harus dilalui. Menurut empunya yang punya resto Megu tempat dimana saya mencoba si Kobe Beef ini, si sapi harus dikembang biakkan di Jepang, lalu sapinya juga harus happy lho. Makanya sapinya dirawat dengan sangat baik dan diberikan makanan dengan kualitas tinggi agar si sapi sehat dan memiliki daging yang luar biasa juara. Nanti tingkat lemak, keempukan, kadar air, dan lain-lain menjadi salah satu factor penentu apakah daging ini masuk dalam kualitas Kobe Beef atau tidak.

Di Restoran Megu, kami bisa memilih bagaimana Kobe Beef ini dimasak. Bisa dimakan dengan cara shabu-shabu (direbus dengan air biasa) atau dengan cara sukiyaki (di rebus dengan kuah manis lalu dicelupin ke telor). Saya memilih sukiyaki karena rasanya manis-manis gimana gitu. Dan percayalah, dagingnya super empuk, lemaknya pas, dan pas dicocol ke telor.. tak ada duanya. Makanya, harganya bisa sampai 1,3 juta per porsi. Terbilang lumayan mahal sih untuk itungan satu porsi, tapi worth banget sama pengalaman dan rasa yang kamu dapat. Sumpaaaah! Jangan khawatir, disini Kobe Beefnya halal kok.


4. Nyobain Sushi Buatan Tangan Sendiri!


Orang mungkin udah nggak heran dengan yang namanya sushi karena sushi udah jadi hal umum di Indonesia. Tapi bikin sushi sendiri dan dimentori oleh salah satu master sushi, mungkin merupakan pengalaman yang berbeda. Di Kidoairaku yang merupakan salah satu restoran sushi di Okayama, saya dan teman-teman belajar langsung bagaimana membuat sushi yang baik. Terlihat mudah karena pada intinya adalah bagaimana caranya menaruh nasi kepal diantara topping seperti salmon, tuna, unagi, cumi, dan lain-lain. Tapi ternyata nggak sesimpel itu karena kamu harus tahu segimana jumlah nasi yang pas, lalu gimana cara melipat toppingnya, dan etika menyajikan sushi. Menurut master, butuh beberapa tahun untuk menjadi seorang master yang bisa menyajikan sushi secara proper dan berkualitas tinggi! Wuihhhh!



5. Belajar bikin teh matcha dan bikin kue kecil ala Jepang.


Udah bukan rahasia lagi kalau orang Jepang menjamu tamu atau bikin acara syukuran gitu, dijamin bakal ada tea ceremony dan kue-kue kecil khas Jepang. Ternyata untuk membuat teh dan kue kecil itu juga nggak sembarangan, ada masternya juga lho. Disini kami diajarin gimana caranya mengolah matcha tea, yang ternyata teh nya pahit banget. Maklum, saya lidah Indonesia jadi biasanya teh itu pakai gula yang bikin jadi manis. Giliran dikasih teh yang tanpa gula dan diseduh sendiri secara manual, paiiittnya bukan main. Eits tapi jangan salah, meskipun begitu, teh matcha ini sehat banget lho. Gak heran hidup orang Jepang panjang-panjang, minumnya aja sehat semua.

Selain itu, saya juga belajar gimana caranya buat kue kecil gitu. Gak ngerti nama kuenya apa, tapi cara bikinnya itu kayak kita mainan lilin jaman dulu. Diputer-puter, di bentuk bulat, terus dikasih topping kacang merah gitu. Rasanya manissssss banget. Saya pribadi juga lupa campurannya apa saja, tapi yang jelas aromanya seperti adonan kue gitu. Langsung di makan, nggak perlu dimasukin ke dalam oven lagi.


Ya itulah beberapa petualangan kuliner saya selama di Okayama. Post selanjutnya bakalan membahas kegiatan apa saja yang bisa kamu lakukan kalau kamu ke Okayama selain makan. See you again!

Credit beberapa Photo: Mas Wira





0 comments:

Post a Comment