Sebuah Nostalgia Tentang Limun Oriental.

Limun Oriental.

Ngomong-ngomong tentang limun, saya jadi ingat masa lalu. Dulu ketika masih zaman sekolah, ada dua minuman yang terkenal, yaitu Limun dan Temulawak. Usai sekolah, kami segera menghampiri penjual limun yang berada di belakang sekolah. Limun yang beraneka warna cukup membuat kami tertarik di masa itu, Tanpa babibu, kami segera memesan satu gelas limun. Favorit saya sih, warna merah dengan rasa strawberry didalamnya. Penjual limun dengan cekatan menuangkan limun kedalam plastic lalu menambahkan es batu. Ahhhh, segarnya bukan main, apalagi setelah pelajaran Matematika yang menmbosankan itu.

Limun Aneka Warna!

Untuk generasi sekarang, pernahkan kamu mendengar kata limun? Kalau kelahiran 98 ke atas kayanya jarang yang tahu, karena saat itu tampaknya limun hilang dari peredaran. Limun atau dalam Bahasa Inggrisnya lemonade, merupakan minuman aneka rasa yang lemon. Nah untuk saat ini, lemon sering digantikan dengan soda berkarbonasi rendah. Makanya, kalau kita minum limun itu, rasanya segar-segar gimana gitu di tenggorokan.

Khusus karyawan, tapi kami boleh masuk hehe.

Kali ini saya bersama Kemenpar dan teman-teman blogger melanjutkan perjalanan ke beberapa heritage spot di kota Pekalongan. Beberapa diantaranya adalah Benteng Pekalongan yang sekarang telah menjadi lapas Pekalongan dan Museum Batik. Tapi yang paling menyenangkan tentunya adalah saat menyambangi pabrik Limun Oriental. Mengenang lalu banget euy!

Sebuah rumah yang nampak tua  dengan gaya perpaduan Cina-Belanda ternyata merupakan pabrik limun yang dinamakan limun Oriental. Sekilas, tak nampak kalau rumah ini adalah pabrik limun, saya selalu membayangkan bahwa limun dibuat di pabrik besar macam Cola. Ternyata, limun legendaris ini dibuat home made. Wow!

Pabrik limun yang dibangun pada sekitar tahun 1920an oleh pasangan Njoo Giok Lien ini memimpin pasar penjualan minuman bersoda hingga tahun 1970-an. Ketika masuk 1980-an, limun mulai tergerus eksistensinya karena datangnya minuman bersoda lainnya yang sering kita dengar dengan nama Cola.

Lalu, seorang guide menunjukkan kepada kami bagaimana proses pengolahan limun ini dibuat. Dimulai dari proses pencucian botol yang memiliki tiga tahap pembersihan. Muali pembesihan secara manual, lalu menggunakan mesin dan air dengan tekanan tinggi. Setelah itu kami ditunjukkan bagaimana limun mengalir lewat pipa-pipa yang tersambung. Sayang, kami tak sempat melihat saat limun dimasak. Disana juga kami melihat ketika proses limun yang sudah terisi diberi tutup botol oleh mesin.


Proses pembersihan dan pengisian limun.

Tak sampai situ saja, kami juga diberikan beberapa botol limun untuk dicoba. Rasanyapun beraneka ragam, mulai dari strawberry, melon, mint, nanas, jeruk, anggur, dan rasa-rasa lainnya. Saya sih sukanya rasa jeruk, netral dengan rasa soda yang buat seger ditenggorokan. Enak banget sumpah!

Limun Oriental

Nah, pesan untuk angkatan 98 keatas, mungkin kalian wajib mencoba minuman limun ini. Karena saat ini limun sudah mulai tergerus akibat pasar Cola yang semakin besar. Padahal dari rasa, kualitas limun tak kalah dengan Cola, apalagi limun selain memiliki aneka rasa juga lebih sehat menurut bapak Guide. So, kalau ke Pekalongan jangan lupa mampir ke pabrik Limun Oriental ya!





7 comments:

  1. Mint dan anggur? Wah aku blm nyoba tuh,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal Innayah! Wah masa kamu belum coba? Orang asli sana mah harus coba dong..

      Delete
  2. Kalau saya suka limun rasa hanimun bersamanya ke Nihiwatu, kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak, kayanya kaka mau buru2 nikah ya kak? Dipercepat deh kak. Lebih cepat lebih baik.

      Delete
  3. duh jadi inget zaman SD kalau lihat limun2 ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Saya juga dulu kerjaannya nongkrong nungguin tukang limun sama tukang agar2... haha

      Delete