Indahnya Wisata Alam Petungkriyono

Apa sih yang pertama kali kamu pikirin kalau dengar kata Pekalongan?

"Nggak tau" bagi yang belum pernah dengar sama sekali.


"Batik Pekalongan!" buat kamu yang udah pernah dengar sesekali mah.


"Curug!" jawab traveler yang udah pernah mampir.

"Kalong!" kata orang yang suka asbun alias asal bunyi.


Surga di Petungkriyono?

Keberangkatan pukul 5 pagi menuju Semarang dan semifinal Liga Champion cukup menjadi alasan bagi saya untuk tidak tidur semalaman. Usai menyelesaikan babak pertama, saya bergegas untuk pergi ke konter Bus Bandara. Sesuai perkiraan, bus bandara disesaki para pelancong yang ingin menikmati long weekend. Beruntung, saya masih mendapat satu tempat duduk meskipun paling belakang. Sepanjang perjalanan, saya berusaha mencuri waktu untuk tidur, tapi entah mengapa saya terjaga hingga tiba di Bandara. Turun dari bus dengan tergopoh-gopoh, saya memperhatikan kondisi bandara saat long weekend kali ini.

Kondisi Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta juga tak kalah ramai dengan bus barusan. Antrian mengular semenjak masuk jalur drop off menuju security check point. Terlihat beberapa orang yang tergesa-gesa berlarian di selasar. Dari kejauhan, counter check-in  juga terlihat cukup padat. Kalau diperhatikan secara seksama, kebutuhan akan traveling sudah menjadi gaya hidup saat ini. Terbukti dengan bandara yang tak pernah sepi, apalagi saat long weekend. Saya yang masih setengah mengantu, dikejutkan dengan suara yang berasal dari tas pinggang.Sebuah notifikasi muncul dari smartphone yang telah menemani saya selama hampir dua tahun terakhir.


"Aku di Starbucks ya gengs" tulis Leoni di grup Whatsapp.

Saya bergegas menuju Starbucks tempat dimana kami harus bertemu. Ternyata, saya orang paling terakhir yang sampai di meeting point. Disana, Wira @wiranurmansyah, Winny @winnymarlina, dan Leoni @leonisecret sudah menunggu. Kami berempat bakalan jalan-jalan bareng menuju beberapa tempat eksotis di Pekalongan, Jawa Tengah. Famtrip Blogger kali ini digagas oleh Kementerian Pariwisata dan beberapa dinas terkait di Kabupaten Pekalongan. Usai bercengkerama sesaat, suara panggilan dari pengeras suara memanggil kami untuk segera naik ke pesawat.



Kalau nggak selfie, nggak afdol!

Cuaca yang cukup cerah menaungi perjalanan kami pagi itu. Beruntung, saya bisa terlelap sepanjang perjalanan. Dimulai dari take off, saya langsung memejamkan mata dan hilang ditelan bumi. Sama sekali nggak kerasa apa-apa. Banyak yang bilang, bisa tidur di segala tempat adalah suatu berkah. Tak kenal apapun tempatnya, mata selalu bisa terpejam. Tapi, bagi saya tak hanya berkah, tapi cacian. Kadang, saya dijuluki BEDpacker alias si Tukang Tidur.

Sesampainya di Bandara Achmad Yani Semarang, kami dijemput oleh panitia. Pak Yanto, guide kami menjelaskan bahwa kami akan mengunjungi beberapa destinasi. Tak hanya kota Pekalongan, kami juga akan singgah di Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan. Saya sempat bertanya kepada Pak Yanto destinasi apa saja yang bisa dikunjungi di Pekalongan selain Batik, tetapi beliau hanya menjawab “tenang saja Mas, istirahat saja dulu di mobil.”. Benar saja, lagi-lagi saya ketiduran sepanjang perjalanan.


Bersama Dinas Pariwisata Pekalongan.

Tak terasa, dua jam setengah berlalu semenjak keberangkatan dari bandara. Ternyata, panitia mengantar kami ke Pendopo Kabupaten Pekalongan yang lalu disambut hangat oleh Bapak Bupati Pekalongan H. Asip Kholbini S.H M.Si, Komisi 10 DPR RI Ibu Dr Marlinda S.E, dan Dinas Pariwisata Pekalongan. Usai sambutan dan ramah-tamah, kami segera bergegas menuju destinasi pertama kami, yaitu kawasan Ekowisata Petungkriyono, yang letaknya di Kabupaten Pekalongan.


Pintu masuk kawasan Petungkriyono.

Kawasan Petungkriyono merupakan salah satu kawasan hutan lindung yang cukup terkenal di Jawa Tengah. Aneka jenis pohon yang kebanyakan didominasi oleh pohon pinus seolah memayungi sepanjang perjalanan kami. Teriknya matahari siang itu sama sekali tak terasa diantara teduhnya hutan. Selain menyajikan panorama hutan lindung yang lengkap dengan curug-curug disetiap sisinya, kawasan Petungkriyono sendiri sering dikenal sebagai Instagramble Spot, yaitu tempat yang cocok untuk berfoto ria. Tak hanya itu, hidup primata Owa Jawa (hylobates moloch)—hewan sejenis kera, yang merupakan salah satu satwa khas yang tinggal di hutan Petungkriyono.

Pemandangan sawah sepanjang perjalanan.


Pepohonan yang Instagramable abis!

Ternyata untuk melintasi kawasan Petungkriyono tak mudah. Kami harus melewati jalanan yang berkelok dan menanjak. Kontur yang begitu rapat memaksa mobil kami selalu berpindah antara gigi satu dan gigi dua. Wajar saja, jalan lintas Petungkriyono cukup ramai. Selain banyak wisatawan yang datang, jalan lintas Petungkriyono merupakan jalan yang menghubungkan antar dua desa. Tetapi di benak kami, usaha tak akan mengkhianati hasil. Pasti ada sesuatu yang cantik yang tersembunyi di lebatnya hutan lindung Petungkriyono.

Tips mengunjungi Hutan Lindung Petungkriyono:

1Pastikan kendaraan dalam kondisi yang prima dan penuh bensin. Sepanjang perjalanan, kami tak menemukan adanya tambal ban ataupun bengkel.

2. Jalanan akan sangat gelap saat malam hari. Pastikan tak kesiangan berangkat agar tak kemalaman.

3. Siaga akan kehadiran Owa Jawa saat kamu sedang melintas. Menurut guide, barangsiapa orang yang melihat Owa Jawa, biasanya merupakan orang yang dinaungi keberuntungan.

4. Persiapkan logistik. Saya tak menemukan warung disepanjang jalan kecuali saat di pintu masuk destinasi.

5. Siapkan kameramu! Pemandangan hutan Petungkriyono dengan curug-curug disepanjang jalannya, bikin pengen jepret terus!

2 comments:

  1. Tambal ban dan bensin ada, pas udah masuk desa sokokembang petungkriyono. Ngeri kalau pas di hutannya itu, sinyalpun ilang wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha berarti aku yang gak perhatian sama jalan kalau gitu :( Terima kasih infonya Innayah!

      Delete