Lembuswana, mahkluk mitologi dari Kesultanan Kutai, dengan latar belakang Keraton Kesultanan.
Setiap daerah pasti punya festival atau gawai budaya masing-masing. Misalnya, festival Lembah Baliem di Wamena Papua, atau festival Laskar Pelangi di Belitung. Nah, kebetulan karena kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Kalimantan Timur bersama Kementrian Pariwisata dan teman-teman blogger. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, kunjungan saya kali ini dalam rangka mengikuti Festival Erau 2017. Festival Erau yang lebih dikenal secara internasional dengan nama EIFAF (Erau International Folk Art Festival). Agustus tahun 2016, saya sempat mengikuti prosesi Festival Erau dimana prosesi pengambilan air sungai Mahakam dan penebaran beras dilakukan. Ternyata, prosesi itu adalah prosesi hari kedua atau ketiga, jadi saya melewatkan yang pertama. Untungnya, prosesi yang saya datangi kali ini adalah prosesi hari pertama.

Usai jalan-jalan sore di Pulau Kumala, kami melanjutkan perjalanan menuju Keraton Kutai Kartanegara untuk mengikuti upacara adat Bepelas. Upacara apaan lagi tuh? Bepelas adalah semacam upacara adat yang digelar saat malam hari pada setiap  dan selama pelaksanaan Erau. Saat itu kami sempat bingung apakah kami bisa memasuki keraton dan mengambil gambar ritual secara langsung. Saking bingungnya, kami sempat bolak balik untuk mencari petugas yang terlihat santai untuk bertanya apakah kami bisa masuk kedalam. Habisnya, semuanya kelihatan fokus ke ritualnya sih. Untungnya, kami dapat masuk kedalam keraton setelah meminta izin terlebih dahulu. Lucky!


Para Pengiring Musik.
Gamelan.
Salah satu peserta dari Luar Negeri. Mantap!
Sebuah ruangan yang berukuran cukup besar dipenuhi dengan ornamen berwarna kuning menyambut kami. Di luar, para pengiring musik dan penyanyi menyanyikan musik-musik adat ala Kalimantan Timur. Di dalam ruangan, sudah dipenuhi oleh banyak orang. Ternyata nggak hanya anggota kesultanan saja yang memenuhi ruangan, tetapi para kontingen dari luar negeri! Mereka tampak menikmati sajian budaya dari para penari-penari yang menarikan beberapa tarian khas Erau.

Kami menunggu cukup lama hingga Sultan Kutai Kartanegara keluar dari ruangan lalu berjalan menuju singgasananya. Saat sultan keluar, suasana mendadak riuh. Para fotografer dari berbagai macam media berupaya untuk mengambil momen ini. Dibantu oleh para pengawalnya, Sultan berjalan kearah singgasananya lalu duduk. Setelah Sultan duduk, para pengawalnya menyiapkan Tiang Ayu, yaitu sebuah tiang yang menandakan kebenaran yang memiliki kekuatan magis dan spiritual. Setelah Tiang Ayu disiapkan, para pengawal membantu Sultan untuk berdiri. Sultan berjalan pelan menuju Tiang Ayu lalu menginjakkan kakinya pada sebuah benda yang terlihat seperti gong. Pada awalnya, saya pikir Sultan akan menginjak mangkuk gong itu sampai pecah. Tiba-tiba "DOOOOOOOOOOOORRRRRRRRRRR!!!!" Suara ledakan yang berasal dari luar keraton mengisi seluruh ruangan. Kami yang nggak pernah menyangka akan hal ini langsung kaget sekaget-kagetnya! Dan itu nggak sekali doang, tapi dua kali! Meriah! Saking kagetnya, saat gong kedua, saya dan teman-teman sudah menutup telinga kami agar tak terlalu kaget. Sumpah, suaranya keras banget! Ternyata jumlah ledakan ini nggak sembarangan. Karena hari ini adalah malam kedua Erau, maka ledakan dari meriam akan dilakukan sebanyak dua kali. Dentuman meriam ini akan terus dilakukan setiap malam hingga festival Erau berakhir.


Gong yang bikin kita kaget sampai loncat!
Prosesi Tiang Ayu.
Sultan Kutai Kartanegara.

Dengan ini, Festival Erau resmi dibuka! Kira-kira, akan ada keseruan apa lagi ya? Ikuti terus perjalanan kami ya!
Gembok Cinta.

Kalau kamu sering ngikutin cerita perjalananku di Instagram Catatan Backpacker, kemungkinan besar kamu akan tahu isi dari catatan perjalananku kali ini. Ya, gapapalah ya agak sedikit di ulang. Siapa tahu banyak yang belum membaca tentang keunikan di Pulau Kumala.

Sesampainya di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, kami langsung saja bergegas menunggu mobil yang akan menjemput kami. Ternyata, mobilnya besar banget guys! Karena sebagian teman-teman Blogger Kalimantan Timur belum datang (Kemenpar juga mengundang beberapa blogger asli Kaltim, yaitu Mas Jo @ranselusang dan Kak Friska @cintadonat). Jadi mobil yang harusnya muat 13 orang, hanya diisi 5 orang saja. Tumpek blek dah serasa boss kaki udah kemana-mana dalam mobil.

Perjalanan dari Bandara menuju Samarinda memakan waktu hampir tiga jam lamanya. Saya yang tak sempat sarapan, langsung menghajar roti yang diberikan oleh Ode. Dasar perut karet, ternyata tak cukup juga. Akhirnya, mau tidak mau saya membeli dua buah potong ayam goreng krispi yang berukuran cukup besar untuk mengganjal perut. Dan keputusan itu ternyata SALAH BESAR!

"Guys, nanti kita makan di rumah makan masakan khas Banjar gitu ya." kata Mas Ain.

"Mas, langsung banget nih? Baru aja abis dua potong ayam" jawabku sambil ngunyah.

"Siapa yang suruh makan, makanya sabar." jawab Mas Ain diikuti tawa teman-teman.

Dan benar saja, kami mampir dirumah makan Banjar Sari yang merupakan restoran prasmanan yang menjual aneka masakan Banjar. Disini asli saya kecela banget, soalnya perut udah penuh. Mata sih masih kegoda, tapi ya perut gak bisa dibohongin. Daripada mubazir, yaudah deh saya cobain satu persatu. Eh dasar perut karet, taunya semuanya abis dilahap.

Rumah Makan Banjar Sari, khas Banjar!
Singkat cerita, usai makan kami melanjutkan perjalanan ke hotel yang bernama unik. Namanya The Hotel. Nggak ngerti lagi kenapa namanya the Hotel. Ya biar gampang kali yak. Jadi kalau ditanya lo nginep dimana, dengan enaknya jawab "gue nginep di The Hotel.". Gue jamin pasti temen lo bakal nanya balik "Iya gue tau di Hotel, nama Hotelnya apa?" begitulah seterusnya sampai dunia kebalik.

The Hotel, tempat kami menginap.
Usai bebersih dengan waktu super singkat (hanya 30 menit saja), kami menjajaki destinasi pertama kami, yaitu Pulau Kumala yang terletak di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dibilang pulau sih ya bukan juga pulau, karena lokasinya bukan di laut tapi ditengah-tengah sungai besar. Mungkin lebih tepatnya dataran yang terangkat kali ya.

Nah, untuk menuju si Pulau Kumala, kami harus menyebrangi dua jembatan. Pertama adalah jembatan Kutai Kartanegara, lalu jembatan Repo-Repo yang menghubungkan dataran Tenggarong dengan Pulau Kumala. Khusus jembatan yang pertama disebut yaitu jembatan Kutai Kartanegara, dulunya ini jembatan pernah mengalami musibah yaitu ambruk pada tanggal 26 November tahun 2011. Ambruknya bener-bener ambruk, patah ditengah. Nah untungnya saat ini sudah diperbaiki dan diperkuat jadinya sudah aman dilewati meskipun sedikit was-was saat mendengar ceritanya.

Jembatan Kutai Kartanegara yang dulu pernah patah.
Ini nih yang unik! Saat kami menyebrangi pulau Kumala via Jembatan Repo-Repo, sepanjang jembatan bakalan banyak gembok yang terpasang di railing jembatan. Bukan sembarang gembok, tapi... gembok cinta. Gembok cinta itu gembok yang ada tulisan I love kamu gitu-gitu lah. Katanya sih kalau yang masang gembok cinta, nanti cintanya akan tergembok jadi gak akan berpaling. Nyatanya sih nggak, ternyata saya malah nemuin gembok yang dicoret-coret di salah satu nama. Mungkin udah putus jadi gemboknya dicari lagi terus dicoret deh. Patah hati nih ye...

Berfoto di Jembatan Repo-Repo dengan penari Erau.
Ini nih Gembok Cinta Repo-Repo!
Selfie Bersama! Si Ode dan Jo mana yak?
Si pulau Kumala dulunya juga merupakan tempat wisata macam Dufan yang ada di Jakarta.  Kumala Fantasy Park namanya. Sayang, taman bermain ini kurang dirawat, padahal punya potensi yang cukup baik. Tapi karena adanya event Erau, Kumala Fantasy Park hari ini didatangi oleh cukup banyak pengujung. Untuk masuknya juga murah hanya tujuh ribu rupiah saja, jadi nggak perlu banyak mikir.
Tiket Masuknya Hanya Tujuh Ribu Saja!
Dufannya Tenggarong nih!
Akhirnya, kami menghabiskan hari bersama di Pulau Kumala hingga matahari terbenam. Ah, hari pertama kembali ke Kutai rasanya amat menyenangkan. Gak sabar untuk hari esok!


Festival Erau 2016
Rasanya, baru saja aku kembali dari Kutai Kartanegara, tepatnya setahun yang lalu. Saat itu, aku sedang melakukan perjalanan empat provinsi di Kalimantan dalam rangka menyelesaikan perjalanan 34 provinsi. Provinsi yang kutuju adalah Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, hingga Kalimantan Tengah dalam jangka waktu satu bulan lebih. Di Kalimantan Timur, aku menyempatkan waktu untuk pulang kampung ke Samarinda. Setelah kota Samarinda, teman-teman mengajakku untuk mengelilingi kota Tenggarong, yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Kutai Kartanegara.

Aku baru tahu bahwa Kota Tenggarong merupakan kota yang cantik, dibelah oleh sungai Mahakam yang amat besar. Pengaruh Kerajaan Kutai masih terasa disini dengan adanya Festival Erau yang diselenggarakan setiap tahunnya. Saat itu, aku mengunjungi Kutai bertepatan dengan Festival Erau. Ramai sekali, banyak kontingen dari berbagai macam Negara yang datang untuk memeriahkan event berskala Internasional ini. Saat itu, saya mengikuti beberapa prosesi Festival Erau seperti prosesi menebar beras dan prosesi pengambilan air dari Sungai Mahakam. Air Sungai Mahakam lalu dibawa kedalam singgasana, dilanjutkan dengan membaca rapalan-rapalan doa, lalu diakhiri dengan melemparkan kembang dan beras berwarna-warni. Beras berwarna-warni ini sendiri dipercaya bisa memberikan perlindungan kepada orang-orang yang menyimpannya selama Festival Erau berlangsung.

Beras yang ditebar ini membawa kebaikan lho, katanya!
Perlombaan adu dayung sampan juga biasanya diselenggarakan saat festival Erau.
Sudah setahun berlalu semenjak Festival Erau, tiba-tiba ponselku berdering.  Ternyata, ajakan Famtrip dari Kementerian Pariwisata. Aku coba mencari tahu kemanakah destinasi yang akan saya tuju.

"Mbak, rencana Famtripnya kemana ya?" tanyaku penasaran.

"Kita juga lagi sedikit bingung menentukan kemananya. Yang jelas di Kalimantan Timur. Tapi kemungkinan besar si ke Kutai Kartanegara Mas Yud"

"Kutai? Saya pernah kesana sih. Bukannya sedang ada festival ya sekarang?" jawabku sambil mencari info Festival di Google.

"Iya sih Mas. Sepertinya kesana Mas." jawab Mbak Nina, PIC dari Famtrip kali ini.

Jembatan Gembok Cinta?

Aku berjalan cepat diantara kerumunan orang yang berkumpul di Gate Check In. Sepertinya yang lain sudah berkumpul, pikirku. Ternyata pikiranku salah. Aku hanya bertemu dengan Mas Nicko, yang merupakan salah satu videografer kondang. Beberapa travel Blogger lain yang sudah kukenal sebelumnya seperti Kak Griska, Kak Yuki, dan Ode malah belum kelihatan. Anehnya lagi, Mas Ain sebagai PIC dari Famtrip juga belum kelihatan. Lho pada kemana ya?

Iseng-iseng sembari menunggu yang lain di ruang tunggu, aku membuka jadwal perjalanan. Hmmmm, cukup padat. Ada beberapa kegiatan yang memakan waktu lama, terutama saat perjalanan menuju destinasinya. Maklum, destinasi di Kalimantan Timur rata-rata jauh-jauh, tidak seperti Bali ataupun Sumatera Barat yang sekali ngesot langsung sampai. Belum lagi kadang masalah jalan yang ampun suka nggak bener. Kerasa banget sih pas explore Kalimantan Utara, rasanya badan mau copot semua kebanting di mobil.

Tak terasa, panggilan naik pesawat sudah dikumandangkan (emangnya Azan :D ). Saya dan Bang Nicko langsung segera naik pesawat sambil mencoba menghubungi teman-teman lain, tetapi tiada hasil. "Jangan-jangan mereka semua telat bangun?" pikirku jelek saat itu. Benar-benar, sampai diatas pesawatpun, mereka belum ada yang datang. Kami sempat cemas. Tapi perasaan cemas itu tak lama, karena rombongan yang kami tunggu datang tanpa muka bersalah.

Penerbangan menuju Balikpapan. Cerah!

"Woy Yud! Nih, gue bawain roti!" tegur Ode sambil memberikan sebuah bungkusan kecil berwarna coklat. Ya dasar emang belum sarapan dam perut karet, yang tadinya mau ngomel karena mereka telat, setelah disumpel sarapan, kayanya lebih baik diam deh hahahaha.

Kak Yuki dan Kak Gris menyusul belakangan bersama Mas Ain. Setelah saling bertegur sapa, kami pun duduk dikursi masing-masing sambil memperhatikan pramugari yang sedang memberikan safety introduction. Lumayan, untuk cuci mata pagi-pagi.


Nggak sabar untuk kembali lagi ke Kalimantan Timur! Kutai, aku kembaliiiii!


“Mbak, saya pesan soft drink satu ya mbak.” Ujar Dendy sambil tersenyum.

“Lho, Masnya nggak puasa? Tadi teman-temannya puasa lho?” jawab si Mbak Waitress.

“Oh iya saya lupa. Saya piker sudah adzan Maghrib.” timpal Dendy sambil tersipu malu.

Usai berjalan-jalan di daerah selatan pulau Lombok, saya , Guri dan Dendy melanjutkan perjalanan kembali ke peradaban. Jika dihitung jari, hampir satu minggu lebih kami sudah meninggalkan keramaian. Saya mengeksplor Tetebatu, yaitu dsuatu daerah di kaki lereng Gunung Kerinci yang amat terkenal dengan sawah-sawah yang memanjakan mata. Sedangkan dua sahabat saya, mendaki Gunung Rinjani. Setelah itu kami bertemu dan melanjutkan perjalanan kearah selatan Lombok. Yang seperti kamu tahu, daerah selatan Lombok tidaklah seramai daerah kota, jadi ya cukup lama juga kami mengasingkan diri. Mungkin sedikit lebay, tapi memang benar karena mainnya sama Guri lagi, Dendy lagi. Bosan..

Nah, setelah kembali ke Mataram, rasanya Mataram malah terlalu ramai. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di daerah Senggigi. Setelah berdiskusi cukup panjang, kami memilih Coconut Boutique Resort sebagai tempat bermalam kami selama di Senggigi.

Resort yang bernuansa klasik yang dibalut dengan sedikit sentuhan modernisasi. Saat kami masuk, kami disambut oleh Mbak—entah lupa siapa namanya, yang menyambut kami denagn penuh senyum. “Bapak Yudha ya? Kami sudah menerima pesanan Bapak, dua room Chalet untuk dua malam ya Pak.” Katanya sambil tersenyum manis.

Awalnya kami tak berekspektasi tinggi karena kami sudah cukup lelah dan hanya ingin tidur saja. Tapi saat kami masuk kedalam komplek resort, ternyata semuanya diluar ekspektasi kami.


Bungalow kayu yang berukuran cukup besar, lengkap dengan teras yang berhadapan langsung dengan kolam renang. Kolam renangnya juga gak hanya sekedar kolam renang, kali ini kolam renangnya dilengkapi pool bar yang siap sedia ketika tamu yang sedang berenang merasa lapar atau haus (masa iya disuruh minum air kolam). Kami langsung masuk kedalam dan ternyata kamarnya gede banget. Kami sempat bingung mencari kamar mandinya, karena nggak ada kamar mandi. Taunya, kamar mandi ada dipintu belakang dan konsepnya unik, outdoor bathroom.  Tentunya, outdoor bathroom ini tertutup ya, jadi nggak mungkin bisa dilihat dari kamar sebelah. Yang pasti suasananya nyaman banget. Dan semua bagian ruangnnya terbuat dari kayu, jadi ala-ala wooden bungalow gitu. Estetik banget!

Kami lalu mengeksplor bagian lain dari resort ini. Ada sebuah bangunan tiga tingkat yang tepat berada didepan kolam renang. Lantai pertama difungsikan sebagai restoran. Lantai dua, sebagai ruang pertemuan. Dan lantai paling atas merupakan bar untuk bersantai sambil melihat sunset. Dan pemandangan dari lantai tiga ini kece parah karena kami bisa melihat langsung keseluruhan dari resort. Belasan Chalet Room dengan pohon kelapa didepannya. Ya makanya kenapa namanya Coconut Boutique Resort ya karena banyak pohon kelapanya. Selain itu, resort ini juga punya fasilitas spa dan in room dining demi memanjakan para tamunya. Kami mencoba beberapa menu makanan di Coconut untuk sahur kami selama puasa. Dan benar saja, rasanya enaaaak! Apalagi Ayam Taliwang dan Pelecing Kangkungnya, hmmmmm endes banget deh. Wajib nyoba!


Nah bagi kamu yang ingin jalan-jalan ke Lombok dan cari resort yang nyaman di daerah Senggigi, saya menyarankan kamu untuk stay di Coconut Boutique Resort. Suasana saat malam hari ketika lampu-lampu di pool udah berpendar, itu asli romantis banget. Apalagi yang mau honeymoon, nuansanya tenang banget dan jauh dari keramaian gitu. Jadi liburanmu bersama pasangan nggak akan terganggu deh. Cusss!

Coconut Boutique Resort
JL. SALEH SUNGKAR, PERESAK KEBON BAWAK, MENINTING LOMBOK BARAT
Telp: +62 370 7506667 Fax: +62 370 7506636

Email: reservation@coconutboutiqueresort.com